Beberapa hari yang lalu, saya dapat telepon dari bro Senaponda. Beliau bercerita tentang sebuah project yang akan dilakukannya. Project tersebut adalah membuat sebuah skuter matic roda tiga atau skutik trike. Skuter yang dipilih adalah Suzuki Skywave 125.
Setelah ngobrol2, maka saya diminta untuk membuatkan sebuah mockup gambar sistem cut n paste seperti yang pernah saya buat untuk Honda Vario. Bro Sena mengirimkan beberapa gambar trike dan gambar2 Skywave yang mungkin bisa didevelop melalui email ke saya.
Di sela kesibukan kerja, saya mulai nyicil satu2, mulai dari memilih gambar yang paling baik hingga menentukan seperti apa nanti bentuk skutik trike imajiner ini. Sayang sekali stock gambar yang diemail ke saya dan stock gambar yang tersedia di internet, baik Hayate maupun Skywave 125, sangatlah minim. Setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk hanya membuat design imajiner dari satu angle saja (sebelumnya diminta dari berbagai angle). Mudah2an dari teamnya bro Sena nanti bisa mengembangkan ke dalam bentuk sketch untuk angle2 lainnya.
Untuk project imajiner ini, saya mengaplikasikan seat dan duck tail dari Suzuki Skywave atau alias dikenal juga sebagai maxi-scooter Suzuki Brugmann. Untuk roda belakang saya mengambil referensi roda ring 12" tapak lebar, tapi bisa juga diganti dengan roda 14" ex velg mobil Jepang. Modifikasi bodi di bagian belakang mau tidak mau harus cetak sendiri, minimal dari bahan fiberglass. Mudah2an project imajiner ini bisa direalisasikan. Amiin...
Hari Senin pagi (17/09/07), saya meluncur dari rumah menuju Jakarta via rute biasa yaitu Parung & Pd Cabe. Entah karena bawaan puasa atau saya kurang istirahat, pagi itu Vario tidak saya pacu seperti biasa. Tak terasa satu setengah jam berlalu dan saya pun tiba di kantor. Alhamdulillah nggak ada masalah selama pergi hingga tiba di tujuan.
Malamnya saya terpaksa menginap di kantor, sekalian sahur maksudnya, meskipun bablas juga (tapi tetap puasa koq). Hingga hari kedua, Vario nyaris tak tersentuh. Dipanaskan pun tidak sempat karena saya keburu didera pekerjaan.
Kira2 jam setengah 2 pagi, saya pulang ke kosan. Baru saja sebentar meninggalkan garasi kantor, tiba2 ada suara aneh di bagian belakang Vario saya ketika saya menarik tuas rem belakang. Suaranya persis seperti dua bidang besi yang bergesekan. Saya pikir itu mungkin dari debu yang nggak sengaja masuk ke tromol rem. "Ah, nanti juga hilang sendiri. Tuh kan sudah mulai hilang", gumam saya di dalam hati.
Karena jalan2 utama sudah diportal (maklum kantornya di kawasan perumahan), saya terpaksa melintas gang di kampung warga. Namanya juga jalan kampung, sepertinya saya harus diperiksa secara kejiwaan kalo sampe mengharapkan ada jalan yang di-hotmix. Ketika saya tiba di ujung gang, tiba2 timbul suara gesekan kedua. Kali ini agak beda dengan sebelumnya karena suaranya seperti "mengikut" dengan gerakan mengayun shock belakang. Saya pikir, "Wah, kotor banget nih motor gw. Sampe2 shock belakang juga ikutan bunyi2 begini." Tak lama, suara itu pun hilang dan saya melaju kembali menuju kosan.
Lega sekali rasanya bisa sampai di kosan tanpa ada masalah ataupun bunyi2an aneh dari Vario saya. Cuaca pagi itu cukup cerah dan anginnya semilir nggak bikin gerah. Saya nikmati waktu tersebut untuk melepas perlengkapan bermotor saya dengan santai dan membuka pintu kosan. Karena teman2 kosan saya sedang tidur pulas, maka saya putuskan untuk mematikan mesin setelah Vario sudah setengah badan masuk ke dalam pintu kos. Selanjutnya Vario saya dorong menuju spot parkiran.
Kagetnya bukan kepalang, ketika saya dorong justru kali ini bunyi gesekan antar besi kembali terdengar dan bunyinya parah sekali. Tau suara kapur atau kuku yang berdecit di papan tulis dan suka bikin ngilu kan? Nah anggap ini 10 kali lipatnya. Vario pun menjadi susah untuk didorong. Mendadak udara sejuk pagi itu berubah menjadi panas dan pengap. Saya bingung setengah mati tapi juga bersyukur karena masalah ini terjadi setelah saya selamat sampai di tujuan. Apa jadinya kalo masalah ini timbul ketika saya masih di perjalanan?
Saya dudukkan Vario di standar tengah dan saya duduk di sebelahnya sambil mengamati untuk beberapa saat. Pikiran saya segera mengatakan bahwa kemungkinan penyebab bunyi mengerikan ini ada 3:
- Anchor pin patah dan bikin roda nyangkut.
- Kampas rem habis.
- Kampas kopling habis.
Saya menghela nafas sejenak lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian dengan yang lebih santai dan nyaman untuk dipakai main dokter2an dengan si Vario. Lalu dengan sebatang rokok yang menyala terapit di ujung mulut, saya mulai operasi dini hari itu dengan kaki dan bokong dingin (lantainya dingin, bok...).
Saya coba putar roda belakang untuk memastikan dari mana asalnya bunyi sialan itu. Ternyata lumayan butuh tenaga juga untuk memutar si roda. "Wah, gawat nih. Nyangkutnya cukup parah.", pikir saya. Lalu saya coba putar lagi sambil memfokuskan pendengaran saya pada daerah sekitaran tromol belakang. Ternyata bunyi itu berasal dari bagian kopling. Hasil penerawangan saya, (pasti menerawang karena casing CVT belum dibuka) mengatakan bahwa ini kampas koplingnya habis. Selanjutnya saya memutuskan bahwa si Vario harus dibedah lewat operasi kecil.
"Peralatan perang" pun saya siapkan: obeng plus kecil, kunci sok ukuran 8mm dan 17mm (kalo ga salah). Saya pun langsung menjalankan operasi. Tak lama casing CVT sudah terbuka. Saya coba lihat daerah kopling dan...
ADDAUUUWWW..!!!
Masih panas...
"Sial! Lap kotor udah gw buang", saya mengumpat dalam hati. Akhirnya saya putar kembali roda belakang untuk mengamati gejala di kopling. Ternyata memang ada sesuatu yang menyangkut di kopling ini. Kalau kerikil atau debu, rasanya nggak mungkin sampe separah ini bunyinya. Kalau kampas kopling yang habis, saya sendiri belum pernah tau seperti apa bunyinya. Tapi saya tetap berpendirian bahwa suara ini berasal dari dua bidang besi yang bergesekkan.
Saya coba putar kembali untuk melihat kemungkinan ada kerusakan pada si kopling. Sayangnya nggak kelihatan jelas apakah ada kerusakan karena kurangnya penerangan dan saya nggak berani menyentuh koplingnya lagi. Sambil saya perhatikan si kopling, saya pun terus memutar roda belakang hingga akhirnya cukup seret dan bahkan tinggal sedikit lagi dari bisa dibilang nyangkut total. Tiba2 muncul ide gila di kepala saya, "Mumpung macet, ayo bongkar kopling!". Keputusan yang saya ambil ini memang termasuk nekat menimbang saya nggak punya kunci pemegang kopling atau universal holder. Logika saya hanya sebatas kopling nyangkut mungkin bisa cukup menahan saat baut dibuka. 99% nekat dan 1% keberuntungan.
Kunci pun masuk ke baut kopling. Dengan diawali bismillah, mulailah saya memutarnya. Sayangnya si roda juga ikut terbawa berputar. Lalu saya tahan roda belakang dengan kaki saya dan kembali saya putar si baut kopling. Tiba2, seperti ada yang patah dari bagian dalam kopling. Roda pun bisa kembali lancar berputar. Saya terheran2 karena baut kopling sama sekali belum terbuka sedikit pun. Lalu apakah gerangan penyebabnya?
Saat itu kopling sudah agak dingin dan mulai dapat saya pegang. Saya coba putar pelan2 untuk memperhatikan apakah ada sesuatu yang aneh di dalam clutch bell, tapi tak terlihat apa2. Saya putar kembali pelan2, kali ini sambil memperhatikan HiT Clutch dari Dr Pulley yang terpasang di dalam bell. Tiba2 mata saya terpaku pada sesuatu dan kopling saya hentikan agar sesuatu tadi tetap jelas terlihat. Apakah sesuatu itu?
Ternyata salah satu kait di pillow spring patah dan terlepas dari tempat penyangkutnya. Kemudian sisa spring tadi lepas dan bergesek dengan clutch bell. Pastinya ada luka yang cukup dalam mengingat bunyinya yang cukup menyeramkan. Saya sendiri hingga saat ini belum mengecek kondisi bagian dalam dari clutch bell dan si HiT Clutch. Perasaan saya bercampur aduk antara kesal, lega dan heran.
Ketika saya keluarkan sisa spring dan saya perhatikan, pillow spring ini berwarna merah atau varian pillow spring yang paling keras daya renggangnya. Ada sedikit bagian dari spring tadi yang sudah termakan karena gesekan. Bagian kait yang putus sepertinya disebabkan oleh daya putar sewaktu saya mencoba membuka kopling. Seandainya tidak diputar pasti masih utuh, tapi percuma juga karena bagian yang bergesekan sudah tentu habis terkikis jika saya memutuskan untuk mencari bengkel yang punya alat untuk membuka kopling ini.
Saat ini, Vario saya sudah bisa digunakan kembali dan alhamdulillah lancar2 saja. Ada rasa yg sedikit aneh saat 2 buah pillow spring bekerja. Seharusnya menghentak tapi jadi lebih halus. Entah bagaimana mendeskripsikannya. Saya memutuskan harus segera mengganti pillow spring yang tersisa dengan satu set pillow spring yang warna kuning. Jika kondisi memaksa, mau nggak mau saya harus kembali mengganti HiT Clutch dengan kopling orisinil Vario yang sudah karatan dan tersimpan di tas saya sekarang.
---
Ada beberapa pertanyaan yang timbul di kepala saya:
1. Apa penyebab pillow spring tsb bisa lepas dari dudukannya?
2. Kasus ini merupakan kasus kedua yang saya tau mengenai pillow spring putus di jalan. Kasus pertama kalo nggak salah dialami oleh mas Dian Anhar dengan Kymconya di Surabaya. Adakah benang merahnya?
3. Apakah saya tetap dapat menggunakan HiT Clutch atau harus pensiun dan kembali ke kopling orisinil?
Mudah2an jawabannya segera bisa diketahui. Let's hope for the best.
by Aria Gorba Hamdani also posted at my Multiply page
Hari itu gw dan orang2 kantor gw pergi ke Senayan untuk nonton pertandingan bola AFC antara Indonesia melawan Korea Selatan. Di kantong cuma ada duit 35 ribu, KTP dan hape GSM gw. Mobil diparkir di Lapangan Tembak, udah gitu berangkatlah kita jalan kaki ke stadion. Sepanjang jalan para pendukung Indonesia terlihat berjalan dan seolah bergerombol. Lucunya, boss2 gw yg keturunan China sempet disangka pendukung Korea. Padahal jelas2 mereka pada pake kaos pendukung dengan tulisan INDONESIA gede di dada. Hahaha! Pak Mus (supir kantor) jadi penunjuk jalan. Kita masuk dari pintu besar yg kanan di Parkir Timur. Dari awal masuk aja, penjagaannya udah ketat. Sampe2 banyak tentara yg disiapin bawa senapan AK (kayaknya tipe 101). Di beberapa titik, tiket harus dikasih lihat ke yg jaga. Begitu mendekat ke stadion, sorak sorai penonton di dalam udah mulai kedengeran. Gila! Begidik gw ngedengernya. Suasana senang dan antusias campur aduk di hati gw. Pas banget! Petunjuk Gate XII berwarna merah tepat di depan mata. Setelah nanya sama official, kita dikasih tunjuk pintu masuknya di section 22C Lower. Di titik ini banyak korek api yg disita, tapi koq punya gw nggak diambil ya sama pak polisi yg meriksa? Selain korek, segala macem bentuk minuman yg dikemas nggak boleh dibawa masuk. Boleh sih, tapi isinya doang. Panitia udah nyiapin kantong plastik dan sedotan. Wah, hebat juga masih mikirin penonton yg nggak rela ngeluarin duit 10 ribu buat beli segelas kecil Coca Cola. Sewaktu kita masuk ke arah area tempat duduk, suasana langsung terasa beda... "Gila! Deket banget sama lapangan!!" Tau2 ada yg manggil nama gw. Pas gw nengok, eh ternyata si Ian, sepupunya pacar gw. Daerah tempat duduk dia enak, agak tinggi di atas dan gampang cabut kalo ada apa2. Gw kebagian duduk di kursi deret O nomer 9, lebih dekat ke lapangan sekaligus bikin leher pegal, soalnya gw harus banyak nengok ke arah serong kiri di mana titik tengah lapangan berada. Udah gitu giant screen yg di sebelah kanan gw mati entah kenapa. Sial, jadi lebih banyak lagi nengok ke kirinya kalo begini sih.
Stadion Senayan dipenuhi warna merah dan putih. Sebenernya sayang sih... lebih baik kalo dari panitia bisa kompakan nyuruh supporter pake seragam (minimal kaos lah) warna hijau yg senada dengan kaos Timnas. Sambil menunggu, penonton yg ada di tribun semua bikin yell-yell dan nyanyiin anthem yg entah gimana liriknya itu. Wow! Rame banget sampe2 tribun keliatan penuh dan padat. Banyak spanduk2 yg dipajang oleh penonton, mulai dari yg sifatnya mendukung Timnas sampai yg sedikit nggak nyambung (bendera kesebelasan dibawa2). Tapi ada satu banner yg menarik perhatian kita, tulisannya:
"PERSETAN JAMBOREE SUPPORTER. DUKUNG TIMNAS KITA. PANGGILAN JIWA."
Wow! Sampe segitunya mereka. Pantesan heboh banget penonton di area itu.
Ada hal yg unik buat gw selain kehadiran Pak SBY dan Ibu Ani di stadion. Di giant screen diputerin berbagai iklan sponsor. Yg unik bukan itu sih... itu mah basi lah. Mana penataan sound systemnya jelek banget dan gak klop sama arsitektur stadion, bikin suara jadi muter nggak karuan. Yg unik justru teaser AFC group D yg ditayangin di giant screen. Di teaser itu dikasih liat kapten2 kesebelasan 4 negara di group D sekaligus ada highlight pertandingan. Lalu gw ngeliat ada satu wajah Indonesia yg cukup diblow up, yaitu wajah sang kapten: Ponaryo. Keren banget eksekusi bumpernya, sampe2 image "katrok" yg sering terlintas di benak gw tiap ngedengar "sepak bola Indonesia" langsung sirna. Ada sih satu scene waktu Ponaryo bergaya kayak lagi ngebenerin rambut ala pria Brisk. Ah! Sh*t lah, genk! Gak penting banget deh scene itu, tapi akhirnya gw geli sendiri juga sampe ketawa bareng temen2 kantor gw gara2 scene itu.
Tiba2 penonton bersorak "BOOOO!!!" Ternyata kesebelasan Korea Selatan udah memasuki lapangan untuk pemanasan dulu. Sambil ikut nge-boo-in, gw perhatiin pemain2 Korea keliatan udah siap banget secara fisik dan mental. Sesi pemanasan mereka pun nggak lama dan mereka lebih banyak latihan gocek2an dan oper2an. Percaya deh, ngopernya niat2 semua alias kencang2 nendangnya. Udah gitu ngegoceknya beneran pake power seolah2 itu sparing partnernya emang musuh dia beneran. Hebatnya lagi, bisa gw bilang 90% operan mereka itu tepat sasaran. Wow! Timnas kita kayak apa ya?
Ketika Timnas memasuki lapangan, penonton pun bersorak girang seolah superhero mereka telah datang untuk menyelamatkan dunia. Sambil mengingat apa yg dilakuin sama tim Korsel di saat pemanasan, gw merhatiin juga Timnas kita untuk perbandingan. Ternyata... Waduh! Koq basic2 banget pemanasannya dan kelamaan banget. Mana latihan oper2annya? Mana latihan gocek2annya? Koq gak ada?? Apa gw kelewat ya?? Masa cuma gw doang yg ngeliat?? Yg lain kenapa masih sorak2 aja sih?? Mulai was-was deh gw... Nggak kerasa waktu berlalu, seremonial pembukaan pertandingan pun dimulai. Seremonialnya biasa banget, tapi mungkin udah dibikin standarisasi kayak gitu. Ya udah... lanjut! Kedua team memasuki lapangan. Pertama lagu kebangsaan Korea Selatan dinyanyikan. Para atlitnya udah kayak tentara waktu lagu kebangsaan dikumandangkan. Berdiri tegak, tangan kanan menyilang dan telapaknya diletakkan di dada kiri, posisi berdiri agak menyerong ke arah kiri. Rapi sekali,keliatan banget negara yg penuh disiplin. Setelah itu dikumandangkanlah lagu Indonesia Raya. Bisa gw bilang 99% isi stadion nyanyi bareng2! Merinding banget! Gw sempat ngerekam prosesinya, silakan dilihat di bagian video dari page MP gw; atau untuk versi YouTube-nya bisa dilihat di sini: http://youtube.com/watch?v=iu1tL2grl1o
Sayangnya hape gw lowbat jadi gak sempat ngerekam lebih banyak lagi. Singkat cerita, menurut gw permainan Timnas menurun banget. Back yg nggak konsen, terlalu nafsu sampe sering kepeleset, main bola tinggi terus padahal udah tau lawan badannya lebih tinggi, sering ngebuang bola ke daerah yang cuma ada lawan doang, ngejar bola paling niat cuma 1x sepanjang pertandingan (dan terbukti bisa terkejar), dan emosiannya itu lho... Wuih! Stress level tingkat tinggi. Menurut gw beban mental itu berasal dari diri mereka sendiri, bukan dari lawan. Soalnya lawannya cemen... Dikit2 jatuh udah gitu guling2. Ditambah wasit2 yg lebih goblok dari sebelumnya. Gak fair dan telmi. Ah ngeselin deh pokoknya! Gw paling suka sama wasit dari Jepang waktu Indonesia vs Bahrain. Fair banget dan matanya jeli abis (dua2 team diperlakuin adil). Separah2nya permainan Timnas hari itu, tetap gw bangga koq dan gw menantikan bisa nonton langsung lagi untuk ngedukung mereka.
Gw jelas2 salut adalah sama Bambang Pamungkas. Biarpun kalah, tapi dia keliatan bisa berbesar hati dan selalu mengangkat rekan2 timnya supaya nggak terlalu down. Tuh! Hasil jempolan main dan berlatih di Eropa. Pulang2 ke sini nggak belagu. Patut dicontoh! Yang kedua gw salut sama kipernya, Markus, si botak nomer 23 (udah kayak Jordan aja. hahaha!) yg sering banget terpaksa pasang badan dalam arti sebenarnya untuk nyelamatin gawang. Terbukti efektif, sebab gol satu2nya dari lawan berasal dari kekalutan pemain Timnas di depan gawang sendiri. Akhirnya gol deh... 0 - 1 buat Korsel.
All and all, gw sedih tapi gw tetap kasih selamat buat Korsel atas kemenangannya. Masih banyak kesempatan menanti di depan untuk "rematch". Dan ketika saat itu datang, Timnas pasti gw dukung!
INDONESIA!!! *boom boom... boom... boom boom...* INDONESIA!!! *boom boom... boom... boom boom...* INDONESIA!!! *boom boom... boom... boom boom...*
___
Moral of the story:
1. Lain kali ke Senayan rame2 gitu mending bawa air minum sama rokok (kalo ngerokok) yg banyak. Air minumnya diplastikin jg gpp deh daripada keluar ceban buat soft drink seemprit.
2. Udah gitu mobil parkirnya jangan jauh2 biar gak capek jalannya.
3. Bawa alat dokumentasi yg lebih memadai, atau kalo dalam bahasa masa kininya biasa disebut dengan mumpuni.
4. Dan yg paling penting posisi menentukan prestasi: pilih tempat duduk yg gak bikin leher pegal2!
5. Lain kali kalo mau bikin review jangan sok kepanjangan, ntar males sendiri ngetiknya. Wakakakak!
Kopdar kemarin, Vario saya menjadi salah satu kelinci percobaan aplikasi Broquet. Sebetulnya saya ragu, tapi si sales meyakinkan saya bahwa dia sudah test di HVC dan berhasil. So, saya pikir, "Why not?"
Biar nggak kelamaan, langsung aja saya review:
Uji coba 1:
Broquet dipasang sedemikian rupa. Saya lakukan test ride di Arteri Permata Hijau. Hasilnya: Ga ada bedanya. Semua peningkatan performa masih tetap berasal dari parts CVT, terutama HC.
Begitu kembali ke parkiran dan saya laporkan ga ada peningkatan, si sales nampak penasaran dan meminta saya untuk membiarkan dulu selama 5 - 10 menit.
Uji coba 2:
... sama aja tuh. Kesimpulan saya, Broquet tidak menghasilkan apa2 alias gagal total dalam memberikan performa tambahan. Si sales pun terpaksa manyun dan undur diri dari arena kopdar.
---
Keesokan harinya, ada kejadian aneh. Vario saya mengalami loss power, padahal bukaan gas tetap stabil. Kalo saya tambah bukaannya, nggak ada power yg keluar. Suara kenalpot jadi berisik dan konsumsi bensin jadi boros sih iya. Bingung bercampur kesal memenuhi pikiran saya.
Saya coba konsultasi dengan beberapa orang yg saya anggap lebih berpengalaman ttg hal ini. Ada satu benang merah dari tanggapan mereka, yaitu dari bahan bakarnya. Spontan pikiran saya menuju ke uji coba broquet. Di kontrakan, saya coba melakukan bersih2 ringan di bagian air filter, busi, dan selang pernapasan bensin. Hasilnya tetep aja masih suka ngeden larinya si Vario. Malamnya saya pulang ke Bogor dengan penuh gerutu karena Vario saya nggak mau diajak lari. Positifnya, saya jadi nggak mikirin lamanya perjalanan, tau2 udah sampe rumah aja tuh. Hehehe...
Hari ini saya nggak ngantor karena alergi udara dingin saya kumat. Daripada bengang bengong di rumah gak ada kerjaan, akhirnya saya putuskan untuk membawa si Vario ke bengkel rujukan. Di sana saya minta semi general check up termasuk menyampaikan keluhan di Vario saya. Yang nggak dilakukan cuma ganti oli. Baru ganti Redline sayang banget, bok...
Ternyata benar aja, karburator saya kotornya minta ampun. Pak Pieter sang kepala bengkel pun ngasih tau sama saya, Vario jangan pernah dikasih macem2 di tangki bensinnya. "Pasti nanti tersumbat di karbunya!", kata beliau. Tangki bensin pun saya minta untuk dikuras. Seharian penuh si mekanik ngerjain motor saya sampe selesai. Tak lupa tips agak besar pun saya kasih ke dia.
Di perjalanan pulang ke rumah, saya nggak bisa ngetes dengan sepenuh hati. Namun kadang masih terasa gejala itu datang dan pergi, tapi nggak separah sebelumnya. Saya cuma berharap gejala ini cepat hilang dan Vario saya kembali normal.
Banyak teman yang bertanya, bagaimanakah kombinasi performance parts yang ideal untuk membuat Vario lebih baik performanya? Sebetulnya sulit untuk ditentukan patokannya karena ternyata setingan yang pas untuk satu orang belum tentu pas untuk orang lain. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi termasuk kebiasaan orang dalam memperlakukan mesin. Mencontek setingan di motor teman pun belum tentu menghasilkan performa yang sama.
Tuning yand biasa diaplikasikan pada skuter modern (skutik / skubek) untuk kebutuhan harian adalah modifikasi pada bagian CVT. Sebetulnya modifikasi ini sama aja dengan melakukan tuning terhadap transimisi. Pada kendaraan matic khususnya, kita harus sadar terlebih dahulu bahwa peningkatan pada satu sektor pasti mengorbankan sektor yang lain. Dalam hal ini, akselerasi vs top speed.
Para tuner skuter modern professional yang biasa menangani kebutuhan kompetisi tentunya akan mencari setingan untuk mendapatkan keseimbangan yang paling pas bagi performa skuternya. Untuk menutupi hal-hal yang dikorbankan akibat modifikasi pada CVT, mereka melakukan berbagai upaya seperti tuning setelan karburator, mengganti CDI unlimited, bahkan hingga bore up. Tujuannya adalah membuat skuter modern dapat berlari sekencang mungkin dan bertahan pada kondisi performa paling prima selama mungkin, hingga akhirnya grafik performa mencapai puncaknya dan akhirnya mulai menurun. Namun untuk harian dan penggunaan dalam kota harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Untuk penggunaan harian dan dalam kota, tuning performa pada skuter modern sebetulnya cukup dengan melakukan setingan pada roller dan per CVT. Mari kita bahas satu per satu.
Roller Weight
Untuk prinsip kerja roller, semakin ringan rollernya maka dia akan semakin cepat bergerak mendorong movable drive face dan face comp pada drive pulley sehingga bisa menekan belt ke posisi terkecil. Efek yang terasa, akselerasi makin responsif. Namun supaya belt dapat tertekan hingga maksimal butuh roller yang beratnya sesuai juga. Artinya jika roller terlalu ringan maka tidak dapat menekan belt hingga maksimal. Efeknya tenaga tengah dan atas akan berkurang bahkan hilang.
Untuk berat roller, ada dua konsep umum yang biasa dilakukan jika mengaplikasikan roller konvensional (bentuk silinder), yaitu aplikasi roller dengan yang berat seragam dan kombinasi berat roller. Kombinasi roller dilakukan dengan memasang 3 roller dengan beban tertentu dan 3 roller dengan beban yang lebih berat atau lebih ringan, tergantung kebutuhannya. Roller yang lebih ringan akan bergerak terlebih dahulu menekan movable drive face dan menyebabkan Vario bergerak lebih responsif daripada semula. Pada titik putaran mesin selanjutnya roller yang lebih berat akan mulai bergerak dan bebannya membantu menekan belt lebih dalam lagi.
Ada satu rumus ideal untuk mengkombinasikan roller, yaitu bedanya maksimal 3 poin antara roller yang ringan dengan roller yang berat. Dalam konteks CVT Vario, untuk membantu mencari top speed, bisa dilakukan kombinasi 3 roller standard (13 gr) dengan 3 roller yang lebih berat (15 gr). Dengan rumus ideal ini, tenaga tengah akan dikorbankan namun tidak terlalu banyak. Semakin jauh beda bebannya maka semakin banyak tenaga tengah yang dikorbankan. Untuk penggunaan harian dengan track yang tentunya bakal ketemu tanjakan, bisa dicoba kombinasi 12 gr dan 14 gr.
Bagaimana halnya dengan Sliding Roller (SR) yang bentuknya tidak silinder? Prinsip kerja SR tidak untuk dikombinasikan atau dengan kata lain akan lebih optimal jika keenam SR memiliki beban yang sama beratnya. Pengaplikasian SR dapat membantu proses menekan movable drive face lebih cepat daripada roller konvensional. Hal ini karena SR memiliki bidang tekan yang lebih luas untuk menekan face comp sampai movable drive face ikut bergerak. Sedangkan roller konvensional memiliki bidang yang lebih kecil untuk menekan face comp dalam proses pergerakannya. Ibaratnya, akan lebih mudah untuk mendorong pintu rolling door dengan menggunakan telapak tangan daripada dengan menggunakan jari telunjuk saja. Oleh karena itu, secara hukum fisika, SR membutuhkan tenaga yang lebih sedikit untuk mencapai daya dorong yang sama dengan roller konvensional. Untuk gambar perbandingan luas bidang tekan ini silakan lihat artikel sebelumnya mengenai SR di blog ini.
Per CVT
Performance part ini biasa disebut juga dengan compression spring atau torque spring. Prinsip kerjanya adalah semakin keras per tersebut maka belt dapat terjaga lebih lama di kondisi paling luar dari driven pulley. Namun kesalahan kombinasi antara roller dan per CVT dapat menyebabkan keausan bahkan kerusakan pada sistem CVT! Berikut beberapa kasus yang sering terjadi:
1. Per CVT yang terlalu keras dapat membuat drive belt jauh lebih cepat aus karena belt tidak mampu menekan dan membuka driven pulley. Belt semakin lama akan terkikis karena panas dan gerakan berputar pada driven pulley. Bayangkan apa jadinya jika belt putus di tengah jalan? Kita harus siap dengan peralatan yang sesuai, yang sepertinya tidak umum untuk dibawa harian di Vario. Atau solusi mudahnya, sewa mobil bak untuk mengangkut Vario kita ke bengkel kepercayaan kita.
2. Per CVT yang terlalu keras jika dipaksakan dapat merusak clutch / kupling. Panas yang terjadi di bagian CVT akibat perputaran bagian-bagiannya dapat membuat tingkat kekerasan materi partsnya memuai. Pada tingkat panas tertentu, materi parts tidak akan sanggup menahan tekanan pada tingkat tertentu pula. Akhirnya per CVT bukannya melentur dan menyempit ke dalam tapi justru malah bertahan pada kondisi yang masih lebar. Kopling yang sudah panas pun bisa jebol karenanya.
Per CVT original bawaan Vario terspesifikasi di 1000 rpm. Sebetulnya sudah cukup bagus dan ideal untuk penggunaan harian. Namun sepengalaman saya per CVT 1200 rpm jauh lebih enak lagi dan membuat tarikan Vario jadi lebih enteng. Per CVT 1500 rpm masih bisa diaplikasikan tapi rajin-rajinlah memeriksa kondisi drive belt skuter Anda. Saya tidak berani merekomendasikan per CVT 2000 rpm untuk penggunaan harian karena terlalu keras.
Untuk mempermudah pemilihan per CVT performance yang tersedia di pasaran dunia saat ini rata-rata dapat dibedakan berdasarkan warnanya. Berikut daftar warna untuk per skuter modern yang saya berhasil dapatkan dari website Malossi dan sebagian sudah ketahuan spesifikasinya.
- Putih : 800 rpm
- Biru : 1000 rpm <--- Vario menggunakan per original warna ini.
- Violet : 1200 rpm
- Kuning : 1500 rpm
- Merah : 2000 rpm
- Hijau : ??? rpm (belum saya ketahui)
Saya tetap menghimbau Anda untuk selalu berhati-hati dalam memilih performance parts. Konsultasikan baik-baik dengan tuner kepercayaan masing-masing sebelum mengganti part standard dengan part aftermarket.
Semoga informasi di atas cukup membantu. Jangan sungkan-sungkan untuk meralat, menambahkan atau membantah jika ada informasi dari saya yang tidak tepat.
---
Terima kasih saya kepada rekan-rekan di milis dan forum HVC serta rekan-rekan dari Kymco Indonesia atas ilmu yang saya peroleh dan tidak bisa digantikan dengan apa pun.